Dulu, waktu masih mengenyam bangku di SMU…saya memiliki teman dekat yang sudah memiliki jiwa bisnis. Meski demikian prestasi di sekolah juga tidak mengecewakan walau juga tidak menjadi primadona kelas.
Kebetulan disaat itu, awal mula produk pasta gigi “SIWAK” lounching. Berawal dari kedekatan dengan salah satu guru Agama Islam di sekolah, dia mengenal produk itu dan mencoba menjualkannya di rumah (ternyata dia menjualkannya di warung-warung dekat rumah dia sendiri)…alias Affiliasi offline.
Menarik, dia bersemangat menjualkan produk itu…dan pendapatan masuk ke kantongnya. Dan dalam 1 minggu, dia sanggup order barang dua kali untuk di pasok ke warung-warung terdekat dengan rumahnya…makin interesting menurut saya kala itu yang belum punya jiwa bisnis sama sekali.
Suatu hari dia melontarkan pertanyaan ke saya : “Jika kamu memiliki dana Rp 100.000,00, menurutmu lebih baik kamu tabung atau kamu putar modalnya untuk bisnis kecil-kecilan?”
Karena babar blas tidak punya semangat bisnis, ya enteng saja saya katakan “Mending di tabung, engga repot.”
Dengan diawali tawa kecil khasnya, dia menimpali,” Semisal uang itu kamu tabung, kalo nabung di rumah tidak akan berubah jumlahnya..sedangkan kamu bawa ke Bank dalam bentuk Tabungan, berapa perolehan sebulan kemudian?”
“Ya, engga tahu…lha wong tidak pernah punya tabungan segitu.” aku jawab se-enaknya, padahal emang belum pernah punya tabungan segitu waktu itu.
Kemudian dia memberikan gambaran sekilas alur dana kalo di Bank (ini mohon ma’af bukan berarti tidak menghormati pembaca dari kalangan perbankan) :
Dalam Bentuk Tabungan di Bank, tiap bulan ada potongan kartu ATM dan Buku Tabungan…katakan saja tanpa ATM, jadi cuma ada biaya administrasi Rp 4.000,00 (waktu itu segitu sih).
Lalu dalam 1 bulan bunganya tidak mencapai 2 %, katakan saja 2 % deh biar gampang ngitungnya. Artinya dalam 1 Bulan mendapat bunga Rp 2.000,00 tetapi juga kena biaya administrasi bulanan Rp 4.000,00. Dalam 1 bulan, uang di tabunganmu menjadi Rp 98.000,00 (alias berkurang).
“Coba kalo bisnis kecil yang aku jalani,” katanya. Setiap bungkus pasti gigi aku dapet untung Rp 500…modalnya Rp 2.500…jadi dengan modal Rp 100.000 aku bisa beli 40 bungkus pasta gigi…estimasi sederhana terjual semua, untungnya Rp 20.000..So, uangku jadi Rp 120.000 bukan malah berkurang, tapi bertambah”.
Geleng-geleng juga mendengarnya..menarik. Padahal dia order produk bisa 2x seminggu…artinya seminggu aja dapet 40 ribu…tinggal kurangin ongkos bensin paling 10 ribu seminggu (jarak rumah ke sekolah dekat banget).
Benar juga ya..tapi ini kalo dipandang dari segi bisnis sih..bagaimanapun juga menyimpan uang di Bank tetep aja perlu..mungkin sih, biaya potongan bulanan dari Bank tertutupi dari keuntungan bisnisnya.
Sebenarnya kisah itu menginspirasi diri saya sendiri, bagaimana seusia itu sudah berpikir bisnis…padahal orang tuanya PNS dengan jabatan tinggi…dalam segi ekonomi sebenarnya dia sudah tidak kekurangan. Kalo dibilang saya terlambat, memang sih, tapi kan lebih baik dari pada tidak punya jiwa bisnis sama sekali.. ^_^.
Itung-itung, bisnis pulsa di rumah bisa juga deh buat bisnis kecil..sekali transaksi untungnya rata-rata Rp 800..tiap hari rata-rata ada 10 transaksi pengisian pulsa..produk pasti laku karena dibutuhkan banyak orang dan produk tidak basi.
Artinya, sehari saya bisa mendapatkan untung rata-rata Rp 8.000/ hari…dan senyumku lebih bisa mengembang dari bisnisnya dulu..hehe. Kalo saja teman saya itu membaca kisah ini, mungkin tawa kecil khasnya kembali mengembang… ^_^